Perumpamaan Anak Sulung dan Anak Bungsu

Perumpamaan Anak Sulung dan Anak Bungsu

Ringkasan Kotbah Pdt. Sen Senjaya

Tanggal 15 Februari 2009

                       

Ayat bacaan Lukas 15:11-31

 

Apakah saat ini kita sudah merasa bahwa kita melayani Tuhan? Tapi yang lebih penting adalah apakah Tuhan sudah merasa bahwa kita melayani Dia. Jangan sampai Ia berkata “Siapa kamu ini, Aku tidak tahu kamu melayani Aku.”

 

Dalam ayat bacaan di atas diceritakan tentang dua anak yang hilang, anak bungsu dan anak sulung. Perumpaan ini begitu menggoncangkan pada jaman itu. Yang pertama adalah karena anak yang bungsu meminta harta dari ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Kedua, ketika anak bungsu meminta bagian dari warisan, sang ayah tidak marah atau tersinggung. Sang ayah malah memberikan hartanya untuk si anak bungsu. Ketiga, ketika anak bungsu kembali sang ayah lari menyambutnya. Kebiasaan pada saat itu adalah orang tua tidak berlari-lari, tapi berjalan. Dan sebelum anak bungsu meminta ampun, sang ayah sudah menyuruhnya diam. Sang ayah bermaksud mengatakan bahwa bukan si bungsu yang datang dan minta ampun tetapi sang ayah yang sudah terlebih dahulu mengampuni. Keempat, adalah anak sulung yang marah dan menolak untuk ikut dalam pesta menyambung si bungsu.

 

Kedua anak tidak mencintai sang ayah, tapi menggunakan sang ayah untuk kepentingan diri sendiri. Si bungsu memanipulasi untuk memenuhi kejahatannya, sedang si sulung hilang dalam kebaikannya. Dalam cerita ini si bungsu diselamatkan sedang si sulung terhilang dalam kebaikannya. Ia merasa sang ayah berhutang kepada dia karena pelayanan yang dilakukannya. Melalui perumpaan ini Tuhan bermaksud mendefinisi ulang tiga hal:

1.    Mendefinisi dosa

Dosa bukan karena hal-hal yang tidak baik, tetapi juga karena hal-hal yang baik. Contohnya adalah ketika kita menempatkan berkat Tuhan lebih utama di hati kita. Kita menjadikan Tuhan sebagai alat dan merasa bahwa Ia wajib untuk memberkati kita. Kemudian kita menghindarkan Dia sebagai Juru Selamat kita. Yang harus kita lakukan adalah mencari Allah untuk mendapatkan Dia, bukan berkat-Nya semata.

2.    Mendefinisi pelayanan

Tanda dari hati seorang pelayan adalah bagaimana perasaan hati kita ketika orang lain memperlakukan kita sebagai pelayan. Apapun yang dikatakan orang, pelayanan kita harus tetap baik dan bersemangat. Kita melayani Tuhan bukan karena untuk membalas cinta-Nya atau untuk mendapat berkat-Nya atau agar kita tidak mendapat murka Tuhan; akan tetapi kita melayani Dia karena kita sudah mendapat semua itu.

3.    Mendefinisi konsep keselamatan

Kita bisa diselamatkan karena kita memiliki Allah yang menjangkau terlebih dahulu. Tanpa itu kita tidak akan bisa selamat. Kita harus bertobat dari motivasi kita berbuat baik dan motivasi pelayanan kita. Kita bisa selamat ketika hati kita diluluhkan dan digerakkan oleh Allah.

 

Anak sulung marah karena bagiannya diberikan kepada adiknya. Kita harus bersukur karena kita memiliki Yesus yang adalah Kakak kita yang mencari, memanggil dan mengorbankan hidup-Nya untuk kita dan kemudian membawa kita pulang ke rumah Bapa di Surga.

 

Tuhan memberkati.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *