JANGAN MENCARI UNTUNG!

Titus 1:10-14; Yehezkiel 34:1-6

“Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan” (Titus 1:11).

Saya jarang membaca Paulus marah, tetapi kali ini ia mengungkapkan kegusaran hatinya. Kalimat yang kita baca di atas terdapat ekspresi nada marah. Ya, saya merasakan bagaimana kemarahan Paulus itu ditujukan kepada orang-orang yang mencari untung dan menyebar-nyebarkan kekacauan. Akibatnya banyak keluarga yang kacau!
Di dunia ini kita bisa menemukan berbagai jenis orang Kristen dan berbagai jenis hamba Tuhan juga. Ada yang tulus hatinya, tetapi tidak sedikit pula yang mencari keuntungan di tengah-tengah kesempatan yang ada. Orang-orang seperti ini tidak memikirkan pekerjaan Allah. Apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kepentingannya sendiri.
Apa yang terjadi pada masa Yehezkiel terjadi juga pada zaman sekarang. Sebab dalam Yehezkiel 34 diceritakan tentang para gembala Israel yang hanya mencari keuntungan sendiri. Mereka sama sekali tidak peduli dengan domba-domba yang seharusnya dipelihara. Mereka malahan memeras domba-domba itu. Allah menentang mereka.
Saudara, hamba Tuhan diutus ke dunia untuk memelihara domba-domba Allah. Meskipun pada prinsipnya kita mengenal gembala sidang sebagai pemelihara domba Allah, namun secara umum setiap dari kita wajib menjaga saudara kita yang lain. Tetapi kenyataannya setiap orang berusaha mengambil keuntungannya sendiri-sendiri.
Saya pernah ditawari untuk mendirikan persekutuan oleh seorang rekan. Entah bermaksud bergurau atau tidak, tetapi nadanya mengejutkan saya saat ia berkata, “Kalau kita mendirikan persekutuan dan yang datang banyak, wah persembahannya juga banyak dong. Kalau begitu kita nggak perlu bekerja lagi.” Motivasi yang jelas-jelas menyesatkan!
Tetapi itulah yang terjadi dengan banyak hamba Tuhan saat ini. Jemaat Tuhan amat memanjakan hamba Tuhan yang khotbahnya menyenangkan. Mereka memberikan fasilitas yang berlebihan (sebenarnya boleh-boleh saja), tetapi masalahnya mereka mulai menyetir pendeta itu sehingga bahan khotbahnya harus sesuai dengan selera mereka. Akhirnya muncullah hamba-hamba Tuhan “professional” (ada tarifnya!). Jemaat Tuhan ikut andil dalam menciptakan hamba Tuhan – hamba Tuhan seperti ini.

Renungan:
Kita minta Roh Kudus untuk memeriksa hati kita apakah sejauh ini kita masih memiliki hati yang tulus di hadapan-Nya. Entah Anda seorang jemaat biasa atau seorang pelayan Tuhan, milikilah hati yang murni!

Pendeta yang berhati murni berdoa: “Tuhan khotbah apakah yang harus kusampaikan kepada jemaat Minggu ini.”

Leave a Reply

Latest Sermon

Translator